Demi sebuah rasa penasaran, saya akhirnya membeli mie yang sedang naik daun itu, Samyang. Selain karna ada promo beli 4 gratis 1 dengan harga 85ribu, saya juga penggemar berat sesuatu yang berbau Korea, lagian saya juga ingin tahu rasanya itu sepedas apa sih. Di beberapa video tantangan makan mie Samyang, yang makan tampaknya sampai kepedasan gitu. Jadi, sebagai penggemar makanan pedas, saya merasa tertantang sampai ke ubun-ubun untuk membuktikan tingkat kepedasan mie Samyang satu ini! Selain versi mie gorengnya, saya juga membeli yang berkuah. Masih ada satu jenis lagi dengan cheese, tapi saya tidak berminat mencobanya, enggak bisa membayangkan paduan rasa keju dengan mie bercabe. Hehehe. Bungkusan berwarna hitam dengan gambar mie berwarna merah, plus api-apian untuk memberikan sensasi pedas. Tulisan Buldak Bokkeum Myun a.k.a Fire Noodle, yang kalau di Indonesia dikenal dengan nama mie Samyang, walau Samyang sendiri merupakan nama perusahaan yang memproduksi mie ini.

Kemasan mie tidak hanya menggunakan bahasa Korea, jadi untuk cara memasaknya ada terjemahan bahasa Indonesianya. Mienya berukuran lebih besar dan lebih tebal. Aturan memasaknya juga membutuhkan 5 menit merebus mie, kemudian 8 sendok air yang sudah mendidih disisakan untuk menggoreng kembali bumbu beserta mienya selama 30 detik dengan api kecil. Kalau mie dengan selera jutaan umat di Indonesia biasanya bumbu dibagi tiga menjadi sambal, kecap dan minyak bawang. Samyang hanya terdiri dari satu bungkus bumbu saus berwarna merah.  Yang ada di benak saya sausnya akan seperti bumbu Szechuan yang pedas itu, tapi ternyata bau sausnya tidak seperti itu. Wah, tampaknya mie ini tidak pedas bagi saya.

Selain bumbu saus, ada taburan rumput laut dengan potongan super mini lengkap dengan biji wijennya. Biasanya ya saya bisa mengenali makanan pedas itu dari baunya, atau ada yang seibu sebapak, eh maksud saya seia sekata dengan saya dalam hal pengenalan akan makanan pedas? Hehehe. Bau mie Samyang tidak terasa pedas, begitupun dengan warna mienya, tidak terlihat (sangat) pedas. Tapi, mie samyang bertekstur lebih kenyal daripada mie instan pada umumnya.

Lalu bagaimana dengan rasanya? Suapan pertama sedikit mengingatkan akan rasa pada Indomie goreng pedas, tapi setelah suapan kedua, terasa jelas perbedaannya. Dan memang bagi saya mie ini tidak (terlalu) pedas. Pedasnya hanya di bibir saja, itupun tidak berlangsung lama. Sedikit menyisakan keringat, hanya sedikit saja kok. Tapi masih pedesan kalau saya membuat tempe sambal, hahahaha. Tapi, tingkat kepedasan seseorang itu kan tidak sama ya, bisa saja bagi saya tidak (terlalu) pedas, bagi orang lain bisa jadi itu pedasnya luar biasa, suami saya juga tidak ketinggalan mencoba mie samyangnya. Dan bagi seseorang kelahiran di pulau Jawa, yang tidak terlalu doyan pedas, menurut dia mie ini pedasnya untuk penikmat pedas di kelas menengah. Tingkat kepedasan saya cukup di luar nalar suami, jadi mie Samyang sebungkus  17ribu ini, tidak cukup pedas bagi saya.